Selasa, 29 November 2011

ASAS DAN FUNGSI KEPEMIMPINAN TUGAS-TUGAS PEMIMPIN

KATA PENDAHULUAN 
Setelah sepuluh tahun mengalami uji-hidup di tengah masyarakat, maka tiba saatnya pada tahun 1992 buku Pemimpin dan Kepemimpinan ini mendapatkan giliran untuk direvisi secara total.
Kata-kata banyak yang diganti dan diperjelas, kalimat-kalimatnya diubah dan diperkaya supaya lebih mudah untuk dibaca. Bab-bab dalam buku ini di make-up sedemikian rupa sehingga bisa lebih gampang dipahami dan direnungkan kembali. Dengan demikian buku ini mendapatkan wajah yang “lebih cantik”, sedang isinya menjadi lebih mudah untuk ditelaah.
Adapun tujuan utama dari revisi buku ini ialah : “lebih readable”, yaitu lebih menarik dan lebih gampang untuk dibaca, sehingga pemahaman dan penafsiran isinya menjadi lebih jelas gamblang.
Dalam perjalanan sejarah manusia yang maha panjang itu, pemimpin hampir selalu menjadi fokus dari semua gerakan, aktivitas, usaha, dan perbahan menuju pada kemajuan (progress) di dalam kelompok atau organisasi. Dia merupakan agen primer untuk menentukan struktur kelompok/organisasi yang dibinanya, juga memberikan motivasi kerja, dan menentukan sasaran bersama yang akan dicapai. Ringkasnya, pempinpin merupakan inisiator, motivator, stimulator, dan invator dalam organisasinya. Sedang kemunculan dirinya itu pada umumnya terjadi mulai banyak cobaan dan tantangan di tengah kehidupan. Lagi pula fungsi pemimpin itu merupakan kebutuhan yang muncul dari satu situasi khusus, misalnya : masa krisis, perang, revolusi, transisi sosial, kondisi ekonomi, dan lain-lain.
Superioritas pribadinya itulah yang menjadi unsur kekuatan dirinya, yang jelas menjadi rangsangan psikososial, dan menerbitkan respons kolektif dari anak buahnya. Kekuatan sedemikian itu mampu mendominir lingkungannya; dan sifatnya konsultatif, koordinatif, membimbing, sehingga anak buah menjadi patuh pada dirinya, menghormat, bersikap loyal, dan bersedia bekerja sama dengan semua anggota.
Kepemimpinan merupakan kekuatan aspirasional, kekuatan semangat, dan kekuatan moral yang kreatif, yang mampu mempengaruhi para anggota untuk mengubah sikap, sehingga mereka menjadi konform dengan keinginan pemimpin. tingkah laku kelompok atau organisasi menjadi searah dengan kemauan dan aspirasi pemimpin oleh pengaruh interpersonal pemimpin terhadap anak buahnya. Dalam kondisi sedemikian terdapat kesukarelaan atau induksi pemenuhan-kerelaan (complianceinduction) bawahan terhadap pemimpin; khususnya dalam usaha mencapai tujuan bersama, dan pada proses pemecahan masalah-masalah yang harus dihadapi secara kolektif. Jadi tidak diperlukan pemaksaan, pendesakan, penekanan, intimidasi, ancaman atau paksaan (coersive power) tertentu.
Tetapi pada saatnya, di tengah kelompok itu akan muncul seorang tokoh sentral sebagai pemimpin, yang memiliki kualitas-kualitas unggul. Kualitas superior dan pribadi pemimpin tadi sebagian sangat bergantung pada faktor keturunan, dan merupakan disposisi psikofisik/rohani/jasmani yang herediter sifatnya, yaitu berupa inteligensi, energi, kekuatan tubuh, kelenturan mental, dan keteguhan moral. Dan sebagian lagi dipengaruhi oleh lingkungan sosio-kultural dan kondisi zamannya. Maka pemimpin itu adalah produk interaksi antara sifat-sifat karakteristik individu dengan tempaan dan tuntutan situasi zamannya (waktu, ruang/ tempat, situasi sesaat).
Kekuatan dan keunggulan sifat-sifat pemimpin itu pada akhirnya merupakan perangsang psikososial yang bisa memunculkan reaksi-reaksi bawahan secara kolektif. Selanjutnya akan dimunculkan kepatuhan, loyalitas, kerja sama, dan respek dari para anggota kelompok kepada pemimpinnya. Maka kualitas superior tadi menjadi modal dasar bagi “kekuatan sosial” seorang pemimpin untuk mempengaruhi anak buahnya.

ASAS DAN FUNGSI KEPEMIMPINAN
TUGAS-TUGAS PEMIMPIN

RUMUSAN MASALAH
Masyarakat modern sekarang ini sangat berkepentingan dengan kepemimpinan yang baik, yang mampu menuntut organisasi sesuai dengan asas-asas manajemen modern; sekaligus bersedia memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan kepada bawahan dan masyarakat luas. Karena itu keberhasilan seorang pemimpin kecuali dapat dinilai dari produktivitas dan prestasi yang dicapainya, juga harus dinilai dari kebaikannya; dan tidak boleh melakukan “exploitation de I’homme par I’homme” (penghisap oleh manusia terhadap manusia)
Sehubungan dengan luasnya kegiatan manusia modern pada zaman sekarang, dirasakan perlu ada pemimpin-pemimpin yang efektif dan baik pekertinya. Berkaitan dengan masalah ini perlu bagi kita untuk memahami asas-asas dan fungsi kepemimpinan, serta etika profesi pemimpin. Semua itu tercakup dalam teori kepemimpinan.

I.              ASAS DAN FUNGSI KEPEMIMPINAN
Manajemen Modern di dunia bisnis dan industri, juga kepemimpinan di birokrasi pemerintah serta kepemudaan pada zaman sekarang tidak bisa dipandang sebagai bentuk perjalanan yang murni hierarkis formal, manusia modern zaman hierarkis dan objektif formal. Sebab manusia modern zaman sekarang ini justru berkepentingan sekali dengan kepemimpinan yang baik, dengan ciri-ciri karakteristiknya yang, formal, pribadi dan individual, yang jelas dapat dibedakan dari pemimpin yang buruk atau tidak efisien.
Sebabnyapemimpin akan memproduksi hasil atau “produk” yang baik-bermanfaat, atau justru menghasilkan “produk” buruk, dalam kaitannya dengan efisiensi organisasi/lembaga juga selalu dihubungkan dengan kesejahteraan dan kebahagiaan manusia pada umumnya. Kepemimpinan yang buruk dan tidak efisien di satu perusahaan misalnya, akan terjadi penurunan produksi buruh menjadi resah dan banyak yang keluar, absensiisme tinggi. Terjadi banyak pencurian milik perusahaan, dan banyak terdapat konflik di kalangan pegawai.
Contoh lainnya, oleh kepemimpinan yang nonefisien di kalangan organisasi pemuda, akan muncul banyak ketegangan dan konflik, perpecahan, kekacauan dan tindak-tindakan ekstrem radikal yang berbahaya secara politis. Maka semua itu bila diukur secara finansial adalah sangat tidak ekonomis, dan merupakan penghamburan tenaga serta energi. Dan dilihat dari segi kemanusiaan, maka masalah-masalah sosial (kericuhan, kekacauan, kejahatan, kesengsaraan, dan lain-lain) yang ditimbulkan oleh kepemimpinan yang buruk itu adalah tragis (merupakan tragedi).
Kepemimpinan itu hendaknya jangan terlalu berat dinilai dari segi-segi prestasi materiilnya saja. Misalnya, pemimpin harus mampu memproduksi barang dagangan sebanyak mungkin, dan dapat menambah kekayaan perusahaan dalam waktu singkat. Seorang jenderal mampu memenangkan pertempuran-pertempuran saja (walaupun dengan korban manusia yang amat besar) dan politikus dinilai hanya dari kekayaan serta kekuasaan politiknya saja. Akan tetapi, juga harus ikut dipertimbangkan pengaruh baik atau akibat buruk apa yang mereka timbulkan bagi kesejahteraan jasmani – rohani anak buah dan pengikut-pengikutnya, atau bagi manusia pada umumnya.
Dan apakah mereka itu justru tidak menyebarkan banyak malapetaka serta kesengsaraan-kepedihan di kalangan bawaan dan masyarakat luas?
Sekali lagi kami nyatakan, pemimpin itu pada umumnya merefleksikan sifat-sifat dan tujuan dari kelompoknya. Kelompok kriminil akan memilih seorang pemimpin yang ahli dalam hal kesejahteraan. Sekumpulan orang muda yang ambisius dan ekstrem radikal, akan memilih seorang agitator ultraradikal dan patologis sebagai pemimpin mereka, yang akan menyebar perpecahan, bencana dan teror di tengah masyarakat. Jadi, pemimpin itu sedikit atau banyak pasti merupakan epitome (ringkasan pendek) dari sikap mental kelompoknya pada saat itu.
Bagaimanakah fungsi dan asas kepemimpinan itu? Fungsi kepemimpinan ialah memandu, menuntun, membimbing, membangun, memberi atau membangunkan motivasi-motivasi kerja, mengemudikan organisasi, menjalani jaringan-jaringan komunikasi yang baik memberikan supervisi/pengawasan yang efisien, dan membawa para pengikutnya kepada sasaran yang ingin dituju, sesuai dengan ketentuan waktu dan perencanaan.
Dalam tugas-tugas kepemimpinan tercakup pula pemberian insentif sebagai motivasi untuk bekerja lebih giat. Intensif materiil dapat berupa uang, sekuritas fisik, jaminan sosial, jaminan kesehatan, premi, bonus, kondisi kerja yang baik, pensiun, fasilitas tempat tinggal yang menyenangkan, dan lain-lain juga bisa diwujudkan dalam bentuk insentif sosial , berupa promosi jabatan, status sosial tinggi, martabat diri, prestise sosial respek, dan lain-lain. Insentif sosial disebut pula sebagai insentif imateriil.
Asas-asas kepemimpinan ialah :
1.    Kemanusiaa, mengutamakan sifat-sifat kemanusiaan, yang pembimbingan manusia oleh manusia, untuk mengembangkan potensi dan kemampuan setiap individu, demi tujuan-tujuan human.
2.    Efisien, efisiensi teknnis maupun sosial, berkaitan dengan terbatasnya sumber-sumber, materi, dan jumlah manusia atas prinsip penghematan, adanya nilai-nilai ekonomis, serta asas-asas manajemen modern.
3.    Kesejahteraan dan kebahagiaan yang lebih merata, menuju pada taraf kehidupan yang lebih tinggi.
   
II.           TEORI DAN TEKNIK KEPEMIMPINAN
Selanjutnya, agar legalitas kepemimpinan dapat diakui dan dilaksanakan dengan sempurna, maka kepemimpinan itu perlu dilengkapi dengan teknik kepemimpinan. Penguasaan teknik-teknik kepemimpinan ini akan mendorong setiap pemimpin dan anggota kelompok untuk melaksanakan segenap tugas dan kewajiban dengan kesadaran serta tanggung jawab.
Pada bab IB telah dibahas tema kepemimpinan, yang meliputi (1) Teori kepemimpinan dan (2) Tipe kepemimpinan, yaitu dengan panjang lebar dikemukakan teori kepemimpinan, yang menjelaskan pemimpin dan kepemimpian dengan menonjolkan beberapa aspeknya antara lain ialah :
1.        Latar belakang historis pemimpin dan kepemimpinan
2.        Sebab musabab munculnya pemimpin
3.        Tipe dan gaya kepemimpinan
4.        syarat-syarat kepemimpinan
Sedangkan pada subbab ini akan dibahas teknik kepemimpinan.
Teknik kepemimpinan ialah kemampuan dan keterampilan teknis serta sosial pemimpin dalam menerapkan teori-teori kepemimpinan pada praktik kehidupan serta praktik organisasi, yaitu: meliputi konsep-konsep pemikiran, sehari-hari, dan semua peralatan yang dipakai.
Teknik kepemimpinan dapat juga dirumuskan sebagai cara bertindaknya pemimpin dengan bantuan alat-alat fisik dan macam-macam kemampuan psikis untuk mewujudkan kepemimpinannya.
Teknik kepemimpinan dapat juga dirumuskan sebagai cara bertindaknya pemimpin dengan bantuan alat-alat fisik dan macam-macam kemampuan psikis untuk mewujudkan kepemimpinannya.
Dimasukkan ke dalam kategori teknik kepemimpinan ini antara lain ialah :
1.    Etika profesi pemimpin dan etiket
2.    Kebutuhan dan motivasi (manusia)
3.    Dinamika kelompok
4.    Komunikasi
5.    Kemampuan pengambilan keputusan
6.    Keterampiln berdiskusi dan “permainan” lainnya 

III.        ETIKA PROFESI PEMIMPIN DAN ETIKET
Paul E.Torgersen dalam bukunya Management, an integrated Approach menyatakan profesi sebagai satu lapangan kegiatan d(afield of activity) terdapat lima kriteria, yaitu :
1.    Pengetahuan (knowledge)
2.    Aplikasi yang kompeten (competent application)
3.    Tanggung jawab sosial (social responsibility)
4.    Pengontrolan diri
5.    Sanksi masyarakat (community sanction)
Berdasarkan kriteria di atas, profesi kepemimpinan harus dilandaskan pada paham dasar yang mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan luhur, yang dijadikan pedoman bagi setiap pribadi pemimpin. Terutama sekali ialah :
1.      Nilai pengabdian pada kepentingan umum
2.      Jaminan keselamatan, kebaikan, dan kesejahteraan bagi bawaan dan rakyat
3.      Menjadi pengikat dan pemersatu dalam segala gerak upaya
4.      Penggerak/ dinamisator dari setiap kegiatan
Profesi adalah vak, pekerjaan (beroep) yang dilakukan oleh seseorang. Jika kepemimpinan itu harus dijadikan satu profesi dan oleh tugas-tugasnya yang berat pemimpin tersebut mendapatkan imbalan materiil dan imateriil tertentu, maka sebagai konsekuensinya pada dirinya bisa dikenakan sanksi-sanksi tersebut.
Etika adalah penyelidikan filosofi mengenai kewajiban-kewajiban manusia, dan tentang hal-hal yang baik dan buruk jadi penyelidikan tentang bidang moral. Maka etika juga didefinisikan sebagai filsafat tentang bidang moral.
Etika tidak membahas kondisi/keadaan manusia melainkan tentang bagaimana manusia itu seharusnya bertingkah laku. Karena itu pula etika adalah filsafat mengenai praksis manusia yang harus berbuat menurut aturan dan norma tertentu.
Etika profesi pemimpin ialah pembahasan mengenai :
1.      Kewajiban-kewajiban pemimpin
2.      Tingkah laku pemimpin yang baik, dan dapat dibedakan dari
3.      Tingkahlaku yang buruk, serta
4.      Moral pemimpin

Etika profesi kepemimpinan itu mengandung kriteria sebagai berikut :
1.      Pemimpin harus memiliki satu atau beberapa kelebihan dalam pengetahuan, keterampilan sosial, kemahiran teknis, serta pengalaman
2.      Sehingga dia kompeten melakukan kewajiban dan tugas-tugas kepemimpinannya di samping
3.      Mampu bersikap susila dan dewasa. Sehingga dia selalu bertanggung jwab secara etis / susila, mampu memberdakan hal-hal yang baik dari yang buruk, dan memiliki tanggung jawab sosial yang tinggi.
Sikap susila / moral yang dewasa adalah sikap bertanggung jawab berdasarkan kebebasan pribadinya atau asas otonomi. Dan tanggung jawab moral itu menuntut kepada pemimpin agar dia terus menerus memperbaiki segala sesuatu yang ada baik yang ada pada diri sendiri, maupun yang ada di luar dirinya supaya bisa lebih banyak ditegakkan unsur keadilan-kebahagiaan kesejahteraan yang lebih merata. 
4.      Memiliki kemampuan mengontrol diri yaitu mengontrol pikiran, emosi, keinginan dan segenap perbuatannya, disesuaikan dengan norma-norma kebaikan. Sehingga memunculkan sikap moral yang baik dan bertanggung jawab
5.      Selalu melandaskan diri pada nilai-nilai etis (kesusilaan keabikan). Sekaligus pemimpin juga harus mampu menciptakan nilai-nilai yang tinggi atau berarti. Nilai adalah segala sesuatu yang dapat memenuhi kebutuhan manusia.  
6.      Dikenai sanksi. Adanya norma perintah dan larangan yang harus ditaati oleh pemimpin demi kesejahteraan hidup bersama dan demi efisiensi organisasi, maka segenap tindakan dan kesalahan pemimpin itu kesalahan-kesalahan harus segera dibetulkan pelenggaran-pelanggaran dihukum dan ditindak dengan tegas.
Maka jelaslah, bahwa setiap kekuasaan dan wewenang pemimpin itu harus berlandaskan keadilan dan diarahkan pada tujuan menciptakan syarat-syarat dan prasyaratan guna penciptaan kebahagiaan, ksejahteraan, keadilan bagi masyarakat luas.
Sikap moral pemimpin adalah sikap yang bertanggung jawab moral, berdasarkan otonomi, yang menuntut agar dia selalu bersikap kritis dan realistis.
Sikap kritis ini perlu juga ditujukan kepada macam-macam kekuatan, kekuasaan, dan otoritas yang terdapat di tengah masyarakat, yang digunakan sebagai cermin perbandingan, supaya dia tidak melakukan kesalahan, atau tidak salah langkah sosial tersebut, diharapkan dapat dibangun pola hidup masyarakat yang bahagia sejahtera, dan semua orang bisa terbebas dari penderitaan serta ketidak adilan.
Dengan demikian etika profesi pemimpin memberikan landasan kepada setiap pemimpin untuk selalu :
1.      Bersikap kritis dan rasional, berani mengemukakan pendapat sendiri dan berani bersikap tegas sesuai dengan rasa tanggung jawab etis (susila) sendiri. Maka etika profesi menggugah pemimpin untuk bersikap rasional dan kritis terhadap semua peristiwa dan norma termasuk norma tradisi, hukum, etik kerja, dan norma termasuk norma tradisi, hukum, etika kerja, dan norma-norma sosial lainnya.
2.      Bersikap otonom (bebas, tanpa dipaksa atau “dibeli”, mempunyai “pemerintahan diri”, berhak untuk membuat norma dan hukum sendiri sesuai dengan suatu hati nurani yang tulus bersih). Dengan otonomi ini bukan berarti sang pemimpin dapat berbuat semau sendiri, atau bertingkah laku sewenang-wenang, melainkan dia bebas memeluk norma-norma yang diyakini sebagai baik dan wajib dilaksanakan, untuk membawa anak buah pada pencapaian tujuan tertentu.
3.      Memberikan perintah-perintah dan larangan-larangan yang adil dan harus ditaati oleh setiap lembaga dan individu. Yaitu oleh pemimpin, orang tua, keluarga, sekolah, badan hukum, lembaga agama, negara, dan lain-lain.
Setiap subjek yang dikenai perintah dan larangan itu harus bertanggung jawab terhadap setiap langkah dan perbuatannya. Karena itu, praksis manusia, khususnya perbuatan pemimpin, harus etis, harus susila dan baik, serta bisa dipertanggung jawabkan.
Selanjutnya, moralitas tinggi di kalangan para anggota organisasi akan dapat dipupuk, apabila mereka itu merasa dihargai oleh pemimpinnya, tidak diabaikan, dan mendapatkan pujian. Tentu dari pemimpin. Terlebih lagi apabila mereka dilibatkan dalam pemecahan masalah dan kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh organisasi. Dengan demikian akan tercipta satu tim kerja dengan kesadaran sosial yang tinggi apabila kepada mereka diberikan :
1.      kesempatan untuk berperan serta secara aktif
2.      mereka dapat mengatur sendiri mekanisme satu tugas sendiri, (tempo, irama kerja, dapat memilih satu tugas sendiri, metode kerja, dan lain-lain)

maka patut kita ingat, bahwa kebutuhan untuk mendapatkan pengakuan respek, rasa aman atau sekuritas, dan “sense of belonging” (menjadi bagian dari satu kelompok), semua ini ikut menentukan tingkat moralitas dan produktivitas para anggota. Sehubungan dengan itu status sosial, fungsi sosial dan respek yang diperoleh seorang dari pemimpinnya (dan orang lain) itu merupakan titik-titik kritis-gawat bagi kebahagiaan kesejahteraan lahir batin manusia. Dan semua ini diperoleh orang dalam satu lingkungan kerja/ bermain –dalam satu organisasi-, dibimbing oleh pemimpin.
Erat kaitannya dengan etika profesi kepemimpinan ialah etiket yang harus ditetapkan oleh pemimpin. Etiket ialah “unggah-ungguh” atau aturan-aturan konvensional mengenai tingkah laku individu dalam masyarakat beradab merupakan tata cara formal atau tata krama lahiriah untuk mengatur relasi antar pribadi, sesuai dengan status sosial masing-masing individu.
Etiket pemimpin itu sangat dipengaruhi oleh tinggi rendahnya pendidikan dan sivilisasi pribadi pemimpin. Juga dipengaruhi oleh tinggi rendahnya tingkat kebudayaan sebagai konteks-sosial yang mewadahi pimpinan. Khususnya mutlak pemimpin itu perlu mengenal dan menerapkan etiket terhadap anggota kelompoknya guna menjamin relasi saling hormat-menghormati dan saling menghargai. Kemudian, etiket juga didukung oleh bermacam-macam nilai, antara lain ialah :
-       Nilai-nilai kesejahteraan dan kebaikan
-       nilai kepentingan umum
-       nilai kejujuran, kebaikan dan keterbukaan
-       nilai diskresi (discretion = sederhana, penuh pikir, mampu membedakan apa yang patut dikatakan dan apa yang harus dirahasiakan)
-       Nilai kesopanan, bisa menghargai orang lain dan diri sendiri

Maka dari ungguh-ungguh atau etiket yang ditampakkan seseorang lewat perbuatan dan caranya dia menghormati sesama manusia, khususnya menghormati orang-orang yang lebih tua, para wanita dan anak-anak, akan dapat dinilai tinggi-rendahnya akhlak seseorang di tengah kehidupan bersama.  

Untuk mempertahankan hidupnya, kebutuhan-kebutuhan tertentu dari manusia harus dipenuhi. Kebutuhan hidup secara umum dapat dibagi dalam tiga kategori, yaitu :
a.         Kebutuhan tingkat vital biologis, antara lain berupa sandang, pangan, papan atau tempat tinggal, perlindungan / rasa aman, air, udara, seks, dan lain-lain
b.         Kebutuhan tingkat sosio-budaya (human-kultural) antara lain berupa empati, simpati, cinta-kasih, pengakuan-diri, penghargaan, status sosial, prestise, pendidikan, ilmu pengetahuan, kebutuhan berkumpul dan seterusnya;
c.         Kebutuhan tingkat religius (metafisik, absolut), yaitu kebutuhan merasa terjamin hidupnya, aman sentosa, bahagia di dunia dan akhirat, dan kebutuhan untuk bersatu/ manunggal dengan Tuhan Yang Maha Esa.
Kebutuhan-kebutuhan yang insani sifatnya itu memuaskan dorongan-dorongan (drives, wants)
Dorongan ialah desakan yang dialami untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan hidup, dan merupakan kecenderungan untuk mempertahankan hidup.
Dorongan sudah ada sejak lahirnya manusia namun sering tidak di sadari, dan terlepas dari kontrolnya rasio manusia. Dorongan erat kaitannya dengan perasaan-perasaan yang paling dalam. Kuantitas dan kualitas dorongan berbeda-beda pada setiap individu. Pendidikan dan kebiasaan-kebiasaan yang baik ikut mempengaruhi dorongan-dorongan tersebut.
Ada dorongan individual umpamanya : dorongan makan, dorongan aktif, dorongan berkelahi atau berjuang, dorongan merusak, dorongan berkuasa, dan lain-lain. Di samping itu, ada dorongan sosial, misalnya : dorongan seks/ kelamin, dorongan sosialitas atau hidup berkawan, dorongan meniru, dorongan berkumpul dan lain-lain.
Kebutuhan dan dorongan-dorongan yang tidak atau belum terpenuhi menyebabkan timbulnya ketegangan-ketegangan cenderung menaik, bila kebutuhan dan dorongan tadi semakin lama terhambat, dan tidak terpenuhi sehingga, menjadi semakin kumulatif terkumpul. Sebaliknya ketegangan cenderung menaik, bila kebutuhan dan dorongan tadi semakin lama terhambat, dan tidak terpenuhi ketegangan cenderung menurun dan berkurang, bila kebutuhan-kebutuhan terpenuhi atau terpuaskan.
Kebutuhan dan dorongan-dorongan tadi merangsang orang untuk berbuat atau bertingkah laku. Lalu timbullah dinamika, gerak-gerak usaha, perbuatan, tingkah laku atau praksis (praktik, penerapan ketrampilan). Pemuasan kebutuhan dan praksis itu memberikan rasa lega dan puas. 

Mengenai kebutuhan manusia tersebut, Abraham Maslow menyusun hierarkinya, yang mendorong manusia untuk melakukan perbuatan-perbuatan tertentu, dan membuat dirinya menjadi aktif dinamis, sebagai berikut :
1.         Kebutuhan fisiologis (physiological needs), seperti sandang pangan, papan, udara, air, dan lain-lain.
2.         Kebutuhan rasa aman (the savety needs), perlindungan fisik, mendapatkan pekerjaan, jaminan hari tua, dan lain-lain.
3.         Kebutuhan sosial, (the social needs) kebutuhan bergaul, diakui masyarakat, berkawan, berkeluarga dan lain-lain.
4.         Kebutuhan harga diri (The esteem needs) untuk memuaskan egonya, seperti memiliki mobil bagus, berpakaian indah-indah, punya rumah bagus, memiliki gelar, dan seterusnya.
5.         Kebutuhan aktualisasi-diri (the self-actualization needs) untuk memuaskan diri dengan mengembangkan segenap potensi bakat, dan kemampuan, bekerja, berkreasi, rekreasi dan lain-lain.
Jadi ada kebutuhan memberi dan menerima; dan kehidupan bersama ini tidak melulu berdasarkan “hukum rimba” belaka (barang siapa kuat, dialah yang menang). Maka setiap masyarakat itu bisa bertahan hanya atas dasar kooperatif antara sesama warga kelompok manusia itu. Tidak mungkin keberadaannya dipertahankan hanya dengan jalan kompetisi dan persaingan belaka. Maka untuk kerja sama atau kegiatan-kegiatan kooperatif itu mutlak diperlukan pemimpin dan kepemimpinan.
Memang kompetisi dan persaingan sampai pada batas-batas tertentu bisa merangsang pertumbuhan dan perkembangan sosial. Akan tetapi jika dilakukan tanpa kendali serta tanpa limitasi/ batas, dan dilakukan sesuai dengan adagium (semboyan) laissez faire lasser passer (biarkan semua berbuat dan berlaku semau sendiri) peristiwa-peristiwa tersebut pasti akan mengakibatkan anarki dan destruksi atau kehancuran total.
Maka untuk menciptakan iklim kooperatif dengan semangat “bersedia menerima dan rela memberi”, setiap individu harus mengetahui tempat masing-masing, status, tugas, dan kewajiban yang harus dikerjakan dan hak-haknya; di dalam realisasinya dengan orang lain dan masyarakat sekitar selaku totalitas.
Sehubungan dengan itulah maka setiap warga masyarakat harus mampu dan mau berkomunikasi dengan sesama warga, harus saling tolong menolong dan rela berkorban.
Pemimpin yang baik itu wajib memehami kebutuhan-kebutuhan manusiawi tadi baik kebutuhan pribadi sendiri maupun kebutuhan orang lain, anak buah yang dipimpin dan atasan, serta kolega-kolega sederajat, sehingga dia bisa bersikap bijaksana. dengan demikian dia akan mampu memuaskan semua pihak dan berhasilah kepemimpinannya.
Erat kaitannya dengan kebutuhan ialah : motivasi. Motif atau motivasi (latin, motivus) ialah :
1.         gambaran penyebab yang akan menimbulkan tingkah laku, menuju pada satu sasaran tertentu;
2.         landasan dasar, pikiran dasar, dorongan bagi seseorang untuk berbuat;
3.         ide pokok yang sementara berpengaruh besar terhadap tingkah laku manusia, biasanya merupakan satu peristiwa masa lampau, ingatan, gambaran fantasi, dan perasaan-perasaan tertentu.

Berelson Steiner mendefinisikan motives sebagai “A motive is an inner state that energizes activities or moves (hence motivation) and that directs or channels behavior towords a goal” (satu motif adalah satu keadaan batiniah yang memberikan energi kepada aktivitas-aktivitas atau menggerakkannya-karena itu menjadi motivasi, mengarahkan atau menyalurkan tingkah laku pada satu tujuan.
Meumann memberdakan antara, perjuangan motif, dan penentuan motif. Perjuangan motif merupakan usaha mempertimbangkan dengan hati nurani dan akan kemungkinan-kemungkinan untuk melaksanakan satu pilihan di antara beberapa alternatif/ kemungkinan motif-motif tadi. Penentuan motif pada proses penentuan motif ada penentuan pelaksanaan pilihan, yaitu memilih motif yang paling menguntungkan dan paling kuat, untuk dilaksanakan dengan segera.
Maka motivasi kerja dan motivasi untuk menjadi pemimpin itu bermacam-macam. Ada orang yang didorong oleh motivasi-motivasi yang rendah dan egoistis, misalnya meraih prestise, situasi sosial untuk menonjolkan kelebihan dan keakuannya untuk pamer atau bersifat ekshibisionistis untuk mendapatkan kekayaan dengan cara apa pun juga, untuk memuaskan kesombonmgan diri (narsistis), dan lain-lain.
Sebaliknya, ada orang yang muncul menjadi pemimpin karena ia di dorong oleh motivasi-motivasi luhur atau nobel, misalnya oleh rasa-rasa patriotik, pengabdian, pengorbanan, kebaikan kecintaan pada rakyat, tidak mementingkan diri sendiri, tetapi demi kepentingan dan kesejahteraan umum, dan lain-lain. motif-motif yang jelas, tegas dan kuat, akan mendorong kuat kemauan orang, dan memberanikan dirinya untuk berbuat sesuatu. Dengan kata lain, barang siapa memiliki kemauan yang kuat, harus memiliki 
motivasi-motivasi yang jelas-tegas, sehingga mendorong dengan kuat berlangsungnya kemauan. Karena itulah pendidikan kemauan sebagian besar berupa pemupukan motivasi-motivasi yang baik, jelas dan kuat.
Dengan demikian pemimpin harus mampu meberikan motivasi yang baik kepada anak buanya. Berilah kepada anggota-anggota kelompok atau bawahan satu motivasi atau satu kompleks motif-motif tertentu, maka pasti mereka bersedia melakukan perbuatan-perbuatan besar, atau perbuatan kepahlawanan lainnya. Karena itulah maka perlu adanya pemupukan motif-motif atau motievencultuuur (istilah Lindworsky) guna membangkitkan semangat dan kegiatan-kegiatan kelompok.
Adapun motivasi yang diberikan oleh pemimpin itu pada umumnya bermaksud untuk :
1.         Meningkatkan asosiasi dan integrasi kelompok serta menjamin keterpaduan
2.         Menjamin efektivitas dan efisiensi kerja semua anggota kelompok
3.         Meningkatkan partisipasi aktif dan tanggung jawab sosial semua anggota
4.         Meningkatkan produktivitas semua sektor dan anggota kelompok
5.         Menjamin terlaksanannya realisasi diri dan pengembangan diri pada setiap anggota kelompok. Dan memberikan kesempatan untuk melakukan ekspresi bebas.
      
I.              KESIMPULAN
Manusia modern sekarang ini sangat berkepentingan dengan kepemimpinan yang baik, yang memiliki keterampilan teknis tinggi dan sifat-sifat kepribadian yang unggul, dan jelas dapat dibedakan dari sifat-sifat yang inferior/buruk. Oleh karena itu, keberhasilan pemimpin juga harus diukur dari apakah kepemimpinannya memberikan dampak kesejahteraan jasmani-rohani pula kepada anak buahnya, di samping semua prestasi yang telah dicapainya ?
Asas-asas kepemimpinan yang baik itu seharusnya berlandaskan : (1) kemanusiaan; yaitu berupa pemberian tuntunan untuk mengembangkan semua potensi individu; (2) Efisiensi teknis; efisiensi sosial, dan asas manajemen modern; dan (3) Kesejahteraan serta kebahagiaan insani yang lebih merata. Karena itu maka profesi kepemimpinan harus dilandasi motivasi dan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur, yang bisa menjiwai setiap perbuatan pemimpin.


























PENUTUP

Kepemimpinan itu merupakan fungsi kolektif, fungsi kolektif dalam hal ini berarti penampilan yang integratif dari daya-upaya kelompok itu akan selalu dikaitkan dengan masalah kelompok dan tujuan kelompok.
Maka inti hakiki dari otoritas kepemimpinan dengan kekuasaan dan kewibawaannya itu bukan terletak pada kemampuan individual pemimpin tadi, akan tetapi terutama terletak pada kemampuan individual pemimpin tadi, akan tetapi terutama terletak pada situasi totalnya.
Situasi tital ini pertama kali bisa dijabarkan sebagai :
Pertama, kontribusi dari setiap anggota kelompok, sehingga bisa dimunculkan kepemimpinan kolektif.
Kedua, tuntutan dari situasinya, yang memunculkan bentuk-bentuk keharusan dan norma-norma yang wajib dijalani oleh setiap anggota kelompok. Dan bukan individu pemimpin yang menciptakan keharusan-keharusan dan norma-norma.
Sehubungan dengan sulitnya upaya memilih tokoh pemimpin yang baik bagi semua sektor kehidupan, perlu adanya training kepemimpinan bagi para kandidat/calon dan pemimpin-pemimpin yunior. Training semacam ini tidak cukup hanya dengan ceramah-ceramah dan buku-buku bacaan saja. Sebab usaha sedemikian ini sama saja nilainya dengan proses belajar berenang di daratan. Maka yang sangat diutamakan dalam training kepemimpinan – khususnya bagi orang-orang muda banyak melakukan praktik kepemimpinan di bawah supervisi yang dekat.
Sebab, mungkin saja seseorang (calon) pemimpin itu secara tidak sadar melakukan kesalahan-kesalahan, berkata-kata sarkatis menyakiti hati orang lain, menggunakan argumentasi irrasional, sikapnya tidak sabar, acuh tak acuh terhadap bawahan, tidak dengan sengaja menakut-nakuti pengikutnya, dan lain-lain. Maka melalui banyak praktik memimpin, di bawah supervisi yang ketat, dan cukup mendapatkan banyak kritik-kritik, nasihat dan bimbingan, maka pemimpin-pemimpin menemukan kelemahan-kelemahan sendiri, lalu dia menyadari pentingnya upaya perbaikan diri, pembentukan diri dan pembajaan diri, untuk menjadi pemimpin yang baik. Dia bisa menirukan tingkah laku pemimpin yang sukses, dan belajar dari tingkat paling bawah melalui banyak pengalaman.
Tambahan lagi, dia akan lebih terbuka terhadap kritik-kritik dan advis-advis supervisornya. Sehingga dia menjadi lebih peka dan lebih toleran terhadap kritik-saran-sugesti dari semua pihak, terutama dari anggota-anggota kelompoknya. Maka sensitivitas/kepekaan tinggi terhadap aksi dan reaksi dari setiap anggota kelompok yang dibawahi, baik yang formal maupun informal statusnya, merupakan salah satu sifat utama / keutamaan bagi kepemimpinan berkualitas tinggi.
Maka pemimpin yang baik dengan kepemimpinannya yang efektif, akan banyak membantu kelancaran kerja sama yang kooperatif untuk mencapai sasaran-sasaran yang ditetapkan, khususnya sasaran pembangunan nasional.
etika pemimpin yang harus dijalankan ialah memimpin, mengatur, mengelola, dan ” memanage” dengan rasa tanggung jawab, lalu mengarahkan kelompok atau lembaga yang dipimpinnya menuju kepada tujuan ekonomis dan tujuan sosial tertentu.
Selanjutnya, etika profesi pemimpin menyakut pembahasan mengenai :
1.        Kewajiban-kewajiban pemimpin
2.        Tingkah laku pemimpin yang baik dan dapat dibedakan dari tingkah laku yang buruk, dan menjadi teladan, serta
3.        Moral pemimpin
Maka etika profesi pemimpin akan memberikan landasan kepada setiap pemimpin untuk bersikap kritis dan rasional, bersikap otonom, dan mengenakan/dikenakan sanksi, larangan dan hukuman jika ada yang berbuat keliru dan menyimpang dari norma dan konvensi yang ada.
Sehubungan dengan etika profesi pemimpin ini, setiap kekuasaan dan wewenang pemimpin harus dilandasi asas keadilan dan kebaikan diarahkan pada penciptaan syarat-syarat untuk mencapai kebahagiaan-kesejahteraan-keadilan bagi masyarakat luas.
Penting bagi kita sekarang ini ialah tidak menempatkan individu-individu yang super-egoistis, yang mengutamakan interest sendiri, gila kuasa, atau ovberambisius, tidak mampu mengemban tanggung jawab, serta sakit secara sosial sebagai tokoh pemimpin. Sebab, orang-orang sedemikian itu adalah pribadi yang sakit, dan dapat menularkan penyakitnya kepada bawaan dan masyarakat luas dalam bentuk-bentuk penindasan, penghisapan, penderitaan dan kesengsaraan lahir-batin.
Oleh karena itu, proses seleksi calon-calon pemimpin dalam usaha mendapatkan bibit-bibit unggul, merupakan usaha yang teramat sulit. Hal ini terutama mengingat :
1.      Iklim demokrasi memang memungkinkan siapapun juga yang mampu berjuang untuk merebut kursi kepemimpinan, sekalipun mereka itu tidak selalu menggunakan jalan-jalan yang luas dan wajar.
2.      Memang ada pemimpin-pemimpin abnormal, yang bukan merupakan “putra terbaik” dari negara yang bermunculan di tengah arena. Maka kemunculan banyak pemimpin yang abnormal dan sakit itu pasti merefleksikan adanya masyarakat yang tengah sakit pula.
Selanjutnya masyarakat modern sekarang ini sifatnya sangat kompleks dan pluriform, penuh disharmoni, pertentangan atau konflik. Oleh karena itu, manajemen masyarakat modern adalah indek dengan manajemen konflik.
Pendekatan pemimpin tradisional terhadap konflik ialah dengan jalan mengeliminir konflik, jadi antikonflik.
Pendekatan pemimpin yang behavior atau netral ialah : merasionalisasi konflik; konflik dijadikan “netral”, agar mempunyai fungsi sosial di tengah masyarakat.
Pendekatan pemimpin modern atau interaksionis ialah dengan jalan mengembangkan manajemen konflik. Dan mengakui adanya relasi di antara konflik yang konstruktif (dapat di-manage) dengan suksesnya organisasi. Lagi pula, konflik dalam batas-batas wajar mencerminkan adanya :demokrasi, kebinekaan, perbedaan, keragaman, dinamis, perkembangan, pertumbuhan, aktualisasi-diri dan transendensi-diri. Dengan demikian konflik bisa menjadi benih vital bagi pertumbuhan serta suksesnya lembaga atau organisasi.
Kepemimpinan dalam era pembangunan nasional sekarang harus bersumber pada falsafah negara, yaitu Pancasila. Maka diharapkan agar kepemimpinan Pancasila itu mampu menggali intisari dari nilai-nilai tradisi kuno yang luhur (peninggalan para leluhur dan para nenek moyang kita), untuk dipadukan dengan nilai-nilai positif dan modernisme. Dengan demikian kita tidak akan kehilangan identitas sendiri sebagai suatu bangsa yang besar, sekalighus bisa ikut dalam derap kemajuan dari modernitas di zaman modern sekarang.
Di bawah kepemimpinan Pancasila yang benar-benar memancarkan sifat-sifat unggul dan menjadi panutan-keteladanan, semoga bangsa indonesia dapat menyongsong saat-saat gemilang di masa mendatang. 
DAFTAR PUSTAKA 
1.     Leonard rico,organizational confillcta:a framework for reappraisal,industrial management,fall.1964


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar